Selasa, 27 Agustus 2019

Traveling Bersama Keluarga Lebih Berkesan Saat Naik Kereta Api


Aku masih ingat, dulu, aku pernah berjanji mengajak orang yang tercinta (istriku) jalan-jalan ke Yogyakarta. Ya, janji itu aku ucapkan tepat dua pekan sebelum istri melahirkan anak pertama. Seiring berjalannya waktu, karena dera kesibukan, janji itu tak kunjung kutunaikan.
 
Selepas si kecil berusia tiga bulanan, janji itu baru bisa kuwujudkan. Kebetulan saat itu hari libur sekolah tiba, banyak waktu luang yang bisa dimanfaatkan untuk bersua dengan keluarga kecilku. Setidaknya kami perlu waktu tiga hari untuk menikmati liburan sekolah, Juli 2019.

Disaat merencanakan liburan waktu itu, beberapa teman kerja tertarik untuk ikut. Salah satu teman bahkan menawarkan mobilnya siap untuk Cuss ke Yogyakarta, tak perlu ganti bahan bakar. Itu tawaran yang bagus. Tetapi aku tidak menerimanya. Bukan karena tak ingin mengajak mereka, tetapi aku dan istri lebih nyaman naik kereta api. Tho, mereka tak ajak naik kereta juga tidak mau, katanya ribet, pakai beli tiket kereta api segala.

Ya sudah, jalan kami mungkin berbeda. Itu tak jadi soal. Hehehe

Aku dan istriku selalu punya catatan menarik saat naik kereta api. Itulah mengapa, aku rela mengantre, yang mungkin kata temanku itu ribet, demi bisa menempuh perjalanan dengan kereta api.

Akan tetapi itu cerita yang sudah lama aku lipat. Semenjak aku mengintall aplikasi Pegipegi di smartphone, beli tiket kereta api tak seribet ketika beli di loket stasiun. Cukup melalui aplikasi di genggaman, tiket perjalanan sudah siap. Tanpa ribet, tanpa antre, dan gak pake lama.

Enaknya beli tiket kereta api di Pegipegi, kita bisa memesan empat tempat duduk dalam satu kali order. Metode pembayarannya pun cukup mudah. Bisa melalui transfer bank, virtual akun, atau bayar cash di Swalayan yang tercantum di aplikasi. Selain mudah juga banyak promonya dan diskon harga tiket kereta api.

Berbicara tentang catatan, kereta selalu menyimpan cerita menarik di setiap perjalanan. Kami menyebutnya sebagai transportasi sosial kemasyarakatan. 

Di dalam kereta, seseorang yang tak saling kenal bisa berbagi sepotong kue. Orang yang belum pernah bertemu sebelumnya bisa saling bantu mengangkatkan barang ke kabin. Orang yang tak saling kenal bisa saling peduli dengan berbagi atau bertukar tempat duduk. Dan orang yang tak saling kenal bisa saling berseda gurau, entah membahas apa, seolah mereka saudara dekat. Begitu akrab.

Itulah mengapa kami menyebut kereta dengan kendaraan sosial kemasyarakatan. Ada kehidupan manusia saling peduli di dalamnya.

Meksi tak semua orang begitu, namun tetap saja suasananya begitu kental. Dan beragam cerita itu akan dimulai, ketika kita menaruh smartphone, lalu menyapa dan mengajak ngobrol orang lain di depan, atau di samping tempat duduk kita.

Aku selalu bilang kepada istriku, jangan sampai smartphone menghapus kemanusiaan dalam diri kita. Kebahagiaan sejati, itu melekat pada harmonitas manusia. Dan itu tak bisa didapatkan di besi-panel smartphone.

Traveling menggunakan kereta sudah puluhan kali kutempuh bersama istri, tetapi pertama kalinya bagi si kecil. Tujuannya, stasiun kereta Lempuyangan. Lokasinya tak jauh dari destinasi wisata tujuan kami. Tentu saja, semua orang tahu tempat wisata populer itu. Apalagi kalau bukan Keraton Yogyakarta dan Titik Nol Malioboro.

Anehnya, sepulang dari perjalanan kami dari Yogyakarta waktu itu, istriku, yang hobinya menulis itu, lebih banyak menuliskan hal-hal sewaktu di dalam kereta, bukan di tempat wisata. Aku ingat, di Yogyakarta, hanya momentum naik becak menuju toko Bakpia terkenal yang dituliskannya.

Terlepas dari itu semua, aku rasa, semua orang perlu naik kereta api. Semua orang perlu merasakan bagaimana menjadi keluarga tanpa pernah kenal dan bertemu sebelumnya. Ya, istriku pernah berkata, semua orang di kereta adalah keluarganya. Hal mana pernyataan satu ini yang hingga kini belum juga kutemukan maksudnya.


EmoticonEmoticon